Blog

  • Menjaga Nalar dalam Gelap: Ketika Akal Sehat Jadi Minoritas

    Menjaga Nalar dalam Gelap: Ketika Akal Sehat Jadi Minoritas

    Dalam masyarakat yang riuh oleh opini, emosi, dan budaya ikut-ikutan, menjadi orang yang bernalar bisa terasa seperti kutukan. Apa yang kita anggap sebagai keutamaan berpikir logis dan kritis justru sering disalahpahami sebagai nyinyir, sok tahu, atau bahkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kolektif. Ini bukan semata-mata dilema personal, melainkan gejala sosial yang lebih dalam: minoritas nalar hidup di tengah dominasi nalar yang rendah.

    Dianggap Aneh di Tengah Arus

    Orang-orang yang terbiasa memverifikasi informasi, mempertanyakan asumsi, dan menimbang argumen sering dicap sebagai “tidak santai” atau “kebanyakan mikir.” Dalam masyarakat dengan tradisi kolektif yang kuat, seperti Indonesia, tekanan untuk konformitas begitu besar. Mereka yang bernalar logis kerap dianggap tidak loyal secara emosional terhadap kelompoknya. Ini mirip dengan temuan dari Festinger (1957) tentang disonansi kognitif—manusia lebih memilih kenyamanan emosional daripada konfrontasi logis terhadap keyakinan mereka.

    Dari Lelah Berpikir ke Menarik Diri

    Konflik berulang antara nalar dan emosi kolektif menciptakan kelelahan kognitif. Menurut penelitian Kahneman (2011) dalam Thinking, Fast and Slow, otak manusia secara default menyukai sistem berpikir cepat (intuisi, emosi) dan malas menggunakan sistem berpikir lambat (logika, analisis). Ketika minoritas nalar terus-menerus harus melawan gelombang besar nalar dangkal, mereka rentan mengalami burnout, menarik diri dari percakapan publik, bahkan menjadi sinis.

    Namun di tengah kelelahan itu, anak-anak muda, khususnya Gen Z, berada di persimpangan penting. Di Kendari, dalam sebulan terakhir, kita diguncang oleh tiga kasus bunuh diri di Jembatan Teluk Kendari. Terakhir, jenazah Muhammad Agil Ismail (22) ditemukan mengapung di Pantai Toronipa pada Selasa, 3 Juni 2025. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah alarm keras: bahwa banyak pikiran muda kehilangan arah, kehilangan nalar untuk bertahan.

    Gen Z tumbuh dalam dunia yang cepat, penuh tuntutan, dan kadang terlalu sunyi dalam hal makna. Ketika suara nalar tenggelam oleh tekanan eksistensial, banyak yang memilih jalan pintas. Padahal, justru dalam nalar sehat ada jalan untuk merawat harapan.

    Polarisasi: Akal Versus Suara Terbanyak

    Ketika nalar menjadi minoritas, sering muncul jurang antara mereka yang “berpikir” dan mereka yang “ikut arus.” Ini bukan sekadar elitisme intelektual, melainkan perbedaan orientasi dalam memahami kenyataan. Masyarakat yang cenderung emosional merasa kebenaran adalah apa yang diyakini oleh mayoritas, bukan apa yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Hal ini menciptakan benturan epistemologis antara nalar dan norma sosial. Putnam (2000) dalam Bowling Alone menekankan bahwa berkurangnya partisipasi dalam diskursus publik yang rasional berkontribusi pada erosi modal sosial dan kepercayaan kolektif.

    Nalar sebagai Laku Sunyi

    Namun sejarah menunjukkan, para pemikir besar nyaris selalu berangkat dari kesunyian berpikir. Tan Malaka menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) justru ketika hidup dalam pengasingan. RA Kartini, dari balik pingitan, menulis surat-surat yang memicu kesadaran nasional. Galileo Galilei dipenjara karena berpikir berbeda. Nalar tidak selalu menang cepat, tapi ia meninggalkan jejak yang tahan lama.

    Mereka tidak melawan massa demi pujian, tapi demi mempertahankan integritas berpikir. Mereka tahu, kemajuan tidak datang dari mayoritas yang diam, tetapi dari minoritas yang konsisten berpikir jernih.

    Menyalakan Obor, Bukan Membakar Jembatan

    Tugas kita bukan menyalahkan masyarakat, tetapi menjaga api berpikir tetap menyala. Seperti kata Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed, pembebasan sejati datang dari kesadaran kritis, bukan dari pengajaran dogmatis. Kita tidak butuh lebih banyak pengkhotbah kebenaran, tetapi lebih banyak penanya: “Mengapa begitu?” dan “Apakah selalu harus begitu?”

    Bagi anak-anak muda Kendari, menjaga nalar berarti juga menjaga hidup. Di tengah badai informasi, tekanan sosial, dan pencarian jati diri, kemampuan untuk berpikir jernih bukan cuma modal sukses—tapi juga senjata bertahan. Mari bertanya lebih banyak, belajar lebih dalam, dan saling rangkul, bukan saling hakimi.

    Meski gelap, jangan padam. Meski sendiri, jangan berhenti. Karena di balik malam panjang irasionalitas, pagi nalar akan datang—pelan, tapi pasti.


    Referensi:

    • Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
    • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
    • Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.
    • Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. Continuum.
    • Tan Malaka. Madilog.
    • Surat-surat RA Kartini (1900–1904).
    • Data lokal: Laporan Basarnas Kendari, 3 Juni 2025, kasus bunuh diri Muhammad Agil Ismail (22) ditemukan di Pantai Toronipa.