Tag: demokratisasi pengetahuan

  • Matinya Kepakaran atau Demokratisasi Pengetahuan?

    Matinya Kepakaran atau Demokratisasi Pengetahuan?

    “Bukankah kepakaran di hari-hari ini seolah-olah mati karena ia tidak dibutuhkan lagi?” — Seorang penulis buku

    Di linimasa yang ramai dengan hiburan, gosip selebritas, dan konten viral, muncullah satu dua suara yang terasa asing—suara yang membawa ulang suara buku, jurnal, dan renungan harian dari ruang baca ke layar ponsel kita. Sosok seperti Guru Gembul lewat kanal youtubenya dengan tekun merangkum literatur akademik, lalu mengaitkannya dengan realitas moral, etika, bahkan kebijakan publik, dalam bentuk video pendek yang konsisten muncul setiap hari.

    Tentu, konsistensi ini tidak selalu disambut dengan tangan terbuka. Ia kerap dituding sebagai representasi dari “matinya kepakaran”—istilah yang merujuk pada banalitas informasi dari sosok bukan akademisi formal namun berbicara bak ahli di berbagai topik. Tapi apakah benar yang kita saksikan adalah “kematian” kepakaran? Atau justru bentuk baru dari transformasi pengetahuan di abad digital?

    Dulu Ilmu Dikawal Menara Gading

    Di era sebelum internet, pengetahuan dikawal oleh institusi: universitas, jurnal akademik, konferensi ilmiah. Akses terhadap ilmu tidak hanya dibatasi oleh biaya dan struktur sosial, tapi juga oleh bahasa dan formatnya. Pengetahuan, dengan segala terminologinya yang kaku dan metodologinya yang baku, tidak dirancang untuk masyarakat awam.

    Namun kini, teknologi telah membuka celah. Orang-orang seperti Guru Gembul, Bennix, Ferry Irwandi hingga Prof Rhenald Kasali, Gita Wirjawan dan dr. Ryu Hasan menghadirkan format yang lebih cair, lebih pop, dan lebih dapat dicerna. Mereka memecah pagar jargon akademik agar publik bisa ikut berpikir.

    Apakah ini buruk?

    Kepakaran yang Tak Lagi Eksklusif

    Profesor Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise (2017) menyatakan bahwa “terlalu banyak orang saat ini merasa bahwa karena mereka memiliki akses terhadap informasi, maka mereka tidak membutuhkan pakar.” Ia khawatir bahwa masyarakat kehilangan rasa hormat terhadap para ahli.

    Tapi penting juga untuk bertanya: apakah semua pakar masih relevan? Apakah mereka semua masih berbicara dengan publik, atau hanya berbicara di antara sesama pakar dalam ruang tertutup?

    Dalam artikel jurnal oleh Rüdiger & Dayé (2020) yang membahas kepercayaan terhadap kepakaran, disebutkan bahwa munculnya “alternative experts” adalah hasil dari kegagalan komunikasi publik oleh institusi ilmiah sendiri. Dalam konteks ini, sosok seperti Guru Gembul bukan penyebab kematian kepakaran, melainkan gejala dari krisis keterhubungan antara sains dan masyarakat.

    Perluas, Bukan Sempitkan

    Saya bukan pengikut buta para intelektual populer. Saya menyimak konten mereka setiap hari, tapi juga menelaah, menyanggah, bahkan tak setuju pada banyak titik. Tapi menurut saya, justru di sinilah nilainya: kita boleh tidak sepakat. Karena diskusi yang sehat selalu dimulai dari kebebasan berpikir dan keberanian untuk berdialog.

    Kita tidak perlu menuntut “sertifikat keahlian” dari setiap orang yang berbicara, tapi bisa menilai dari cara berpikir, referensi, dan konsistensinya.

    Pengetahuan bukan warisan eksklusif segelintir orang. Ia adalah ruang bersama yang bisa diperluas oleh siapa pun yang membaca, merenung, dan berbagi secara bertanggung jawab.

    Jangan Tumbangkan Kepakaran, Tapi Kawal Bersama

    Alih-alih saling meniadakan, kita perlu ruang dialektika antara kepakaran akademik dan kebijaksanaan populer. Akademisi perlu turun ke ruang publik. Intelektual digital perlu terus menyempurnakan etikanya. Dan masyarakat perlu mengasah daya saring, bukan hanya daya serap.

    Karena yang mati bukan kepakaran, tapi mungkin cara lama dalam menyampaikannya.


    Referensi:

    1. Nichols, T. (2017). The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters. Oxford University Press.
    2. Rüdiger, B., & Dayé, C. (2020). Reassembling expertise: Towards a politics of epistemic pluralism. Social Epistemology, 34(2), 111-121. https://doi.org/10.1080/02691728.2019.1706110
    3. Waisbord, S. (2018). Truth is What Happens to News: On Journalism, Fake News, and Post-Truth. Journalism Studies, 19(13), 1866–1878.