Saya belum pernah membaca langsung buku The Death of Expertise karya Tom Nichols, namun saya merasa sedang hidup di dalamnya. Buku itu, sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulasan, mengisahkan tentang menurunnya penghargaan terhadap kepakaran dan tumbuhnya keyakinan bahwa semua orang berhak merasa benar—tanpa dasar, tanpa data, tanpa nalar. Di Indonesia, gejala ini bukan hanya hadir, tapi berkembang dengan sangat gamblang.
Setiap hari saya menyimak kanal YouTube seperti Guru Gembul, Bennix, Prof. Rhenald Kasali, Gita Wirjawan, Dr. Indrawan Nugroho, hingga dr. Ryu Hasan. Mereka adalah figur-figur yang mencoba membumikan pengetahuan kepada publik, menjembatani jurang antara kompleksitas ilmu dan kehidupan sehari-hari. Namun ironisnya, beberapa dari mereka justru dicemooh oleh sebagian orang sebagai “sok tahu”, “pencari panggung”, atau bahkan dianggap sebagai simbol matinya kepakaran karena terlalu sering bicara.
Tentu, bukan karena mereka tidak kompeten. Tetapi karena kita hidup di era di mana opini pribadi yang dangkal bisa sepadan viralnya dengan riset panjang seorang ilmuwan. Di sinilah ironi Nichols menjadi relevan: ketika informasi melimpah, kebijaksanaan justru menyusut.
Nichols membagi fenomena ini ke dalam beberapa lapis: dari sistem pendidikan yang memanjakan mahasiswa layaknya pelanggan, hingga ilusi bahwa pencarian Google setara dengan bertahun-tahun riset akademik. Dalam masyarakat kita, saya menyaksikan itu tiap hari. Seseorang yang baru membaca satu utas Twitter merasa cukup untuk menyepelekan dokter. Seorang influencer yang baru menonton satu film dokumenter tiba-tiba berani mengkritik kebijakan ekonomi nasional.
Kita sedang mengalami kegaduhan epistemik: siapa pun bisa bicara apa pun, dan semakin yakin, semakin dianggap benar. Rasa hormat terhadap ilmu dan proses berpikir mendalam mulai luntur. Guru dianggap lebih bodoh dari orang tua murid. Dokter dianggap lebih licik dari pasien. Dosen dibilang kuno oleh mahasiswa yang baru lulus.
Namun dalam keterpurukan ini, ada secercah harapan. Kanal-kanal edukatif yang saya sebut tadi adalah bukti bahwa masih ada yang mencoba menyalakan pelita di tengah gelapnya keramaian. Mereka mungkin bukan “ahli dalam segala hal”, tapi mereka sadar bahwa pengetahuan harus dibagi, dan percakapan sehat harus dirawat.
Sebagai warga yang hidup dari pinggiran, jauh dari pusat-pusat diskursus akademik, saya bersyukur bisa mengakses ragam pengetahuan ini secara daring. Tapi saya juga resah. Sebab setiap kali diskusi bernas dibagikan, selalu ada komentar nyinyir yang meremehkan tanpa dasar. Inilah tantangan kita ke depan: membedakan antara kritik dan kedengkian, antara pertanyaan tulus dan olokan kosong.
Nichols benar bahwa demokrasi butuh warga yang bisa berpikir, bukan sekadar bersuara. Kepakaran bukan menara gading, melainkan fondasi peradaban. Dan kalau fondasi ini terus kita hancurkan karena ego dan sinisme, jangan salahkan bila suatu hari kita hanya dikelilingi kebisingan tanpa makna.
Referensi:
Nichols, T. (2017). The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters. Oxford University Press.

Tinggalkan Balasan