Peringatan: Artikel ini membahas topik bunuh diri. Jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami krisis, segera hubungi layanan kesehatan mental terdekat.
Dalam sepekan terakhir, Kota Kendari dikejutkan oleh tiga peristiwa tragis: aksi bunuh diri dan percobaan bunuh diri di Jembatan Teluk Kendari. Ketiga kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah ada efek berantai dari tindakan bunuh diri? Dan apa peran media dalam memperkuat atau mencegah fenomena ini?
Dalam kajian psikologi dan kesehatan masyarakat, terdapat istilah suicide contagion atau efek penularan bunuh diri. Fenomena ini menggambarkan bagaimana satu tindakan bunuh diri, jika dipublikasikan secara luas dan tidak bijaksana, dapat mendorong individu lain yang rentan untuk melakukan hal serupa. Ini bukan sekadar teori. Beberapa kasus di luar negeri menjadi bukti nyata.
Di Bridgend, Wales, antara 2007 hingga 2009, sebanyak 25 remaja melakukan bunuh diri. Investigasi menunjukkan pola pelaporan media yang repetitif dan sensasional turut memperburuk situasi. Demikian pula di Amerika Serikat, lonjakan pencarian informasi bunuh diri tercatat setelah kematian selebritas seperti Robin Williams, Kate Spade, dan Anthony Bourdain.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan panduan peliputan untuk media agar tidak menyebutkan metode bunuh diri secara rinci, tidak melebih-lebihkan motif, serta menyertakan informasi layanan bantuan di akhir artikel. Sayangnya, sebagian media daring di Indonesia justru sebaliknya: menampilkan kronologi, metode, bahkan foto lokasi kejadian secara detail, tanpa disertai edukasi atau himbauan apapun.
Fenomena terbaru di Kendari patut menjadi refleksi. Jembatan yang menjadi landmark kota itu kini berubah menjadi simbol duka. Ketika media lokal terus menyoroti insiden dengan tajuk mencolok tanpa etika, bisa saja terjadi efek domino berikutnya.
Oleh karena itu, penting bagi media untuk menyadari perannya dalam menjaga kesehatan mental publik. Setiap redaksi seharusnya memiliki pedoman peliputan kasus bunuh diri, dan mewajibkan adanya peringatan di awal tulisan. Ini bukan soal membatasi kebebasan pers, melainkan menyelamatkan nyawa manusia.
Kita juga sebagai masyarakat perlu lebih peka. Jangan ikut menyebarkan berita yang tidak etis, dan mari dorong media untuk lebih bertanggung jawab.
Karena satu nyawa yang terselamatkan, lebih berarti dari seribu klik berita.
Butuh bantuan? Kamu tidak sendiri.
Jika kamu atau orang terdekatmu sedang mengalami tekanan psikologis atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi:
- Puskesmas/Psikolog setempat – layanan konseling bisa diakses gratis atau berbiaya ringan
- Into The Light Indonesia – www.intothelightid.org
- Pijar Psikologi – Konseling Gratis
- Konseling Kemenkes RI – www.kemkes.go.id
Sampaikan bahwa kamu butuh bantuan. Hidupmu sangat berarti.
Referensi:
- WHO. (2017). Preventing suicide: A resource for media professionals.
- Niederkrotenthaler et al. (2010). Role of media reports in completed and prevented suicide: Werther vs. Papageno effects. The British Journal of Psychiatry.
- BBC. (2009). Wales suicide cluster linked to media coverage.
- Pusat Krisis Kesehatan Indonesia: www.kemkes.go.id
- Into The Light Indonesia: www.intothelightid.org

Tinggalkan Balasan