Waktu yang Membeku: Generasi Pandemi dan Anak 2000-an yang Tiba-Tiba Dewasa

“Kemarin rasanya mereka masih main lato-lato, sekarang sudah kerja, menikah, bahkan ikut pemilu.”

  • Keluhan sunyi para milenial.

Dunia yang Berhenti, Tapi Umur Terus Bertambah

Tahun 2020 datang bukan sebagai babak baru, tapi sebagai jeda yang tak kita minta. Pandemi COVID-19 menyeret seluruh umat manusia ke dalam ritme baru: hari-hari yang membentang panjang, tapi tahun yang berlalu cepat.

Mereka yang lahir tahun 2003 hingga 2005—dulu kita anggap adik kecil atau anak tetangga yang masih main Mobile Legends di pinggir jalan—tiba-tiba saja muncul di timeline kita sebagai mahasiswa semester akhir, pegawai magang, bahkan pengantin baru. Bukan sulap, bukan sihir. Mereka memang tumbuh. Tapi kita tak sempat melihat prosesnya.


Distorsi Waktu: Saat Kalender Kehilangan Makna

Ruth Ogden dari Liverpool John Moores University mencatat bahwa banyak orang selama lockdown merasa waktu jadi tidak normal—terasa cepat dan lambat sekaligus. Ini disebut temporal disorientation (Ogden, 2020), ketika otak kita kehilangan penanda waktu yang biasa: ulang tahun dirayakan lewat Zoom, lebaran tanpa mudik, bahkan tahun baru tanpa kembang api.

Dalam kondisi ini, otak kesulitan mengarsipkan memori. Waktu kehilangan bentuk. Kita seolah hidup dalam loop.

“Time feels like a flat circle.”

  • Rust Cohle, True Detective

Mereka Dewasa Tanpa Kita Sadari

Remaja yang tumbuh selama pandemi berada di posisi unik. Mereka melewatkan masa SMA yang biasanya penuh kenangan sosial: bolos sekolah, nongkrong di kantin sekolah, cinta monyet, sampai kegiatan les dan ekskul.

Sebaliknya, mereka “dibesarkan oleh layar”: kelas daring, percakapan lewat WhatsApp, dan eksplorasi identitas dalam ruang virtual. Maka ketika pandemi berakhir, dan dunia kembali buka, mereka muncul ke permukaan seperti generasi yang “tiba-tiba dewasa”.

Dalam psikologi perkembangan, hal ini mencerminkan role confusion yang terlewati—fase pencarian identitas yang dipotong jalurnya oleh situasi darurat.


Meme, Humor, dan Luka Kolektif

Tak heran jika internet dipenuhi candaan seperti:

“Anak 2003 sekarang pacaran sama temanku. Padahal aku masih ingat dia pakai seragam SD.”

Meme semacam ini bukan cuma bahan tawa. Ia adalah bentuk terapi sosial, cara generasi yang lebih tua mengakui bahwa mereka kehilangan momen-momen penting. Kita tidak hanya melewatkan ulang tahun orang lain, tapi juga kehilangan rasa kehadiran terhadap tumbuh kembang mereka.


Kita Menua Tanpa Perayaan

Bukan hanya Gen Z yang mendadak dewasa. Kita juga menua tanpa perayaan. Banyak dari kita menginjak usia 30 tanpa pesta, tanpa pencapaian, bahkan tanpa momen refleksi yang layak. Karena semua tenaga habis untuk bertahan hidup: secara ekonomi, mental, dan emosional.

Pandemi telah membuat banyak orang seperti tokoh dalam film fiksi ilmiah: terjebak dalam hibernasi, dan saat terbangun, dunia sudah berubah.


Penutup: Mari Mengakui Kehilangan yang Tak Terucap

Kita tidak hanya kehilangan waktu, pekerjaan, atau orang tercinta. Kita juga kehilangan narasi. Kita melewatkan bab penting dalam kisah hidup orang-orang di sekitar kita—terutama anak-anak muda yang seharusnya kita dampingi dalam proses tumbuhnya.

Maka ketika kita terkejut melihat mereka sudah dewasa, itu bukan karena mereka melompat waktu. Tapi karena kita, para saksi sosial, tidak hadir selama prosesnya.

Dan mungkin, itu yang paling menyedihkan dari semuanya.


Referensi:

  • Ogden, R. S. (2020). The passage of time during the UK Covid-19 lockdown. PLoS ONE, 15(7), e0235871. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0235871
  • Tufekci, Z. (2021). Pandemic as rupture: Society in suspended animation. New York Times / The Atlantic
  • Psychology Today. (2021). Temporal Disorientation and Pandemic Time Perception.
  • Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *